A. Pendahuluan
Siswa adalah pemimpin masa depan dari bangsa Indonesia,
pemenuhan hak belajar dan mendapatkan pendidikan yang layak bagi siswa tentu
menjadi kewajiban bagi orang tua, guru, masyarakat, dan Pemerintah. Pandemi
Covid-19 telah mengubah sistem pembelajaran yang ada di Indonesia dari semula
menggunakan sistem pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring
menggunakan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dimana PJJ menggunakan
internet sebagai saluran komunikasi utamanya akan tetapi ketersediaan jaringan
internet pula yang menjadi kendala utama dalam melaksanakan PJJ. Dikutip dari
Jawa Pos mengenai penyelenggaraan pendidikan menengah di Jogjakarta selama masa
pandemi Covid-19 yang dilakukan pada 1.304 responden yang meliputi guru, siswa,
serta orang tua di tingkat SMP dan SMA di lima kabupaten/kota di Jogjakarta. Dari
survei menggunakan google form sejak 25 Juni sampai 1 Juli,
dapat diketahui bahwa ketidaklancaran jaringan internet menjadi kendala utama
dalam penyelenggaraan pendidikan menengah di tengah pandemi Covid-19. Baik
siswa, guru, maupun orang tua, mengeluhkan ketidaklancaran jaringan internet menjadi
kendala utama dalam kegiatan PJJ.
Masalah lainnya adalah keterbatasan biaya untuk membeli device
seperti laptop, PC, smartphone, dsb. Keterbatasan biaya untuk mengakses
internet baik itu dari pembelian kuota internet maupun untuk berlangganan
internet fiber optic. Kendala lain yang juga dihadapi dalam pembelajaran
daring adalah keterbatasan waktu orang tua dalam mendampingi anak saat
mengikuti kegiatan PJJ dikarenakan orang tua juga harus bekerja demi memenuhi
kebutuhan hidup. Keterbatasan keterampilan menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi juga banyak dialami para guru yang belum seluruhnya terbiasa dengan
teknologi yang digunakan saat pembelajaran daring. Perubahan lingkungan belajar juga
menjadi salah satu kendala di mana siswa tidak lagi belajar di ruang kelas,
sehingga guru tidak dapat memastikan apakah lingkungan belajar siswa kondusif
atau tidak untuk berkonsentrasi, atau media belajar yang bergantung pada
koneksi dan kepemilikan smartphone atau laptop.
Pembelajaran yang tidak diikuti oleh semua siswa juga menjadi
sebuah masalah tersendiri karena bagi
siswa yang orang tuanya berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah, seringkali
didapati siswa terdistraksi karena membantu orang tuanya untuk bekerja. Penugasan yang diberikan
oleh bapak atau ibu guru terlambat diserahkan atau bahkan sama sekali tidak
dikerjakan, ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Salah satunya ialah
tugas yang menumpuk dari mata pelajaran yang lain, bahkan ada beberapa siswa
sama sekali tidak mengerjakan penugasan tersebut. Siswa yang “dicap nakal”
sering sekali menunjukkan sikap tidak peduli terhadap pembelajaran baik melalui
tatap muka langsung dengan memicu keributan di kelas, tidak mendengarkan guru
saat mengajar, atau membolos saat pelajaran berlangsung. Hal serupa juga
berpotensi akan terjadi dalam PJJ.
Pandemi Covid-19 menciptakan tantangan dan kebutuhan inovasi
pembelajaran dengan teknologi, sehingga kolaborasi antara sekolah dengan orang
tua dalam pendidikan juga perlu diperkuat. Karna pada dasarnya setiap anak
mempunyai mimpi untuk diraih dan berharap dapat menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan
yang dapat diikutinya, karena itulah lingkungan yang baik akan membantu siswa
tersebut untuk bersikap baik dan antusias dalam mencapai cita-cita mereka
Berangkat dari permasalahan-permasalahan di
atas proposal ini kami tawarkan sebagai sebuah alternatif solusi yang dapat
diimplementasikan dalam lingkungan RT/RW. Dengan membangun jaringan RT/RW net
yang terpusat dan terbatas di tempat yang memungkinkan untuk didampingi oleh perwakilan
masyarakat baik itu dari karang taruna ataupun dari pihak DKM masjid.
Sekilas mengenai RT/RW net, RT/RW net
adalah jaringan komputer swadaya masyarakat dalam ruang lingkup RT/RW melalui
media kabel atau Wireless 2.4 Ghz dan Hotspot sebagai sarana komunikasi rakyat
yang bebas dari undang-undang dan birokrasi pemerintah. Istilah RT/RW net
pertama kali digunakan sekitar tahun 1996-an oleh para mahasiswa di Universitas
Muhammadyah Malang (UMM), seperti Nasar, Muji yang menyambungkan kos-kos-an
mereka ke kampus UMM yang tersambung ke jaringan AI3 Indonesia melalui
GlobalNet di Malang dengan gateway Internet di ITB. Sambungan antara RT/RW-net
di kos-kosan ke UMM dilakukan menggunakan walkie talkie di VHF band 2 Meter
pada kecepatan 1200 bps. Kemudian para mahasiswa Malang ini menamakan jaringan
mereka sebagai RT/RW net karena memang disambungkan ke beberapa rumah di
sekitar kos-kosan mereka.
Adapun maksud dan tujuan penawaran proposal
ini adalah sebagai Solusi bagi permasalahan yang timbul bagi siswa, orang tua,
dan guru dari proses PJJ karena terdampak wabah Covid-19. Selain itu ada
beberapa maksud dan tujuan lainnya yang dapat dicapai melalui pengembangan
RT/TW net sebagai berikut:
- Menyediakan akses internet
murah dan dapat dijangkau oleh semua siswa di dalam sebuah lingkungan RT/RW
- Menyediakan internet terpusat di
aula yang dimiliki oleh Desa atau di masjid pada setiap RT/RW atau di tempat
lain yang memiliki daya tamping besar dan minim partisi yang dapat digunakan
oleh siswa yang tinggal di lingkungan RT/RW dalam mengikuti kegiatan PJJ
- Mengurangi kesulitan atau beban
siswa yang tinggal di lingkungan RT/RW dari sisi pembelian kuota internet
- Menyediakan sarana komputer bagi
siswa yang tinggal di lingkungan RT/RW yang belum memiliki komputer untuk
mengikuti kegiatan PJJ
- Memastikan bahwa yang dapat
terhubung ke dalam RT/RW net adalah pihak-pihak yang berhak
- Memastikan hanya konten-konten pendidikan atau konten-konten yang mendukung pendidikan yang dapat diakses.
Kondisi saat ini adalah banyaknya siswa
yang kesulitan untuk mengikuti kegiatan PJJ dikarenakan beberapa alasan:
·
Ekonomi keluarganya termasuk ke
dalam ekonomi menengah ke bawah
·
Orang tua tidak dapat
mendampingi anaknya ketika mengikuti PJJ dikarenakan harus mencari nafkah
·
Tidak memiliki kemampuan untuk
membeli kuota internet maupun membeli device pendukung PJJ seperti smartphone,
laptop, PC, atau pun tablet
·
Kontrol guru terhadap anak
didiknya selama PJJ sangat minim karena guru tidak bisa bertemu secara langsung
dengan siswanya
·
Dukungan terhadap anak dalam
mengikuti PJJ rendah karena sebagian Orang tua gaptek
·
Siswa yang tidak fokus
mengikuti PJJ dikarenakan harus membantu mencari nafkah keluarga
·
Lingkungan belajar yang tidak
kondusif membuat siswa kesulitan untuk mengikuti pembelajaran
Solusi dari PJJ bagi siswa yang mengalami
kesulitan mengikuti kegiatan PJJ yang pernah dilakukan adalah menggunakan
sistem belajar kelompok di mana pihak Sekolah membagi kelompok belajar yang
maksimal beranggotakan lima orang. Kemudian guru melakukan kunjungan ke rumah
salah satu anggota yang dijadikan sebagai tempat berkumpul dengan menerapkan social
distancing, menggunakan masker, dan protocol kesehatan lainnya, kemudian
melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sana. Namun hal ini dirasa kurang
efektif karena guru diharuskan untuk berkeliling melakukan kunjungan dan
mungkin setiap kelompok dalam rentang waktu satu pekan hanya dapat dikunjungi
sebanyak satu kali dengan lama KBM berkisar antara dua jam sampai empat jam.
Bagi guru sendiri risiko kelelahan dikarenakan harus berkeliling dan mengajar
pun menjadi besar sehingga imun para guru rentan menurun dan faktor risiko
terpapar COVID-19 pun menjadi semakin besar.
Pengembangan RT/RW pun dapat menjadi sebuah
alternatif solusi karena mudah untuk diperbesar untuk kegiatan lainnya pada
masa mendatang. Manfaat jangka pendek yang dapat dirasakan adalah dengan
memberikan akses internet kepada siswa di lingkungan RT/RW sehingga siswa dapat
mengikuti kegiatan PJJ tanpa harus dibebani oleh pembelian biaya kuota,
pembelian device pendukung PJJ seperti laptop, PC, smartphone, dan
sebagainya. Manfaat lain dalam jangka pendek adalah menyediakan lingkungan
belajar yang kondusif karena siswa dapat belajar di tempat luas yang telah
disediakan oleh Pemerintah dalam hal ini Desa, RT/RW. Selain itu juga dapat menjadi
wadah untuk bersinergi dan berkolaborasi semua elemen masyarakat yang berada di
dalam lingkungan RT/RW dalam mendampingi siswa dalam mengikuti PJJ. Manfaat
jangka panjang yang dapat diraih adalah pemerataan akses internet sehingga
masyarakat dapat melek internet. Harapannya dengan semakin banyak masyarakat
yang mengenal teknologi dan mampu untuk mengembangkannya maka daya saing
masyarakat dalam menghadapi industri 4.0 menjadi semakin meningkat.
Pihak-pihak yang dapat membantu mewujudkan
RT/RW net adalah sebagai berikut:
·
Desa / Kelurahan
·
RT/RW
·
Dewan Kemakmuran Masjid
·
Karang Taruna
·
PKK
·
Tokoh-tokoh Masyarakat
·
Bhabinkamtibmas dan Babinsa
Kebutuhan dalam pengimplementasian RT/RW
net adalah sebagai berikut:
·
Kepastian hukum dan ijin
legalitas dari pihak Desa untuk mengimplementasikan RT/RW net secara terbatas
di lingkungan yang dibawahinya
·
Pendataan siswa di lingkungan
RT/RW setempat yang dilakukan oleh pihak RT/RW atau pun Desa
·
Pendataan jumlah komputer atau
laptop yang perlu diadakan oleh pihak Desa atau RT/RW bagi siswa kurang mampu
di lingkungannya
·
Survey lapangan untuk
menentukan lokasi yang paling optimal untuk diimplementasikan RT/RW net
·
Bekerja sama dengan pihak
Pembina Desa seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk melindungi dan menjaga
kondisifitas keamanan RT/RW setelah dipasang RT/RW net
·
Bekerja sama dengan tokoh-tokoh
masyarakat setempat untuk memberikan edukasi kepada warga agar tidak menyalahgunakan
RT/RW net
·
Bekerjasama dengan karang
taruna mau pun DKM masjid (jika dipasang di area masjid) untuk mendampingi siswa
di lingkungan RT/RW ketika mengikuti kegiatan PJJ
·
Membuat policy situs-situs
apa saja yang dapat diakses
·
Mendaftarkan devices
yang bisa terhubung ke dalam jaringan RT/RW net
·
Implementasi bandwidth
manajemen
·
Membuatkan akun bagi
masing-masing siswa agar dapat dilakukan tracking mengenai history
berselancar internet mereka
Melihat keuntungan yang didapat dalam jangka
panjang jika implementasi ini diperluas lagi dengan tidak hanya berpusat pada
aula mau pun masjid, RT/RW net dapat dikembangkan menjadi penyambungan ke
rumah-rumah, sehingga bisnis digital pun berpotensi untuk dapat
dikembangkan dalam lingkungan RT/RW seperti pemanfaatan internet untuk
pembayaran tagihan telpon, listrik, pengecekan Saldo Bank, pemesanan tiket pesawat,
dan lain sebagainya.
C.
Kesimpulan
Membuat daftar siswa yang berdomisili di lingkungan RT/RW yang datanya didapatkan dari Pengurus RT/RW dan telah divalidasi oleh pengurus RT/RW. Mendaftarkan devices yang dimiliki oleh siswa ke dalam sistem RT/RW net kemudian dibuatkan akun internet dari setiap siswa. Device dan akun internet yang akan menjadi validasi mengenai user yang berhak terhubung ke dalam RT/RW net. Gambar di bawah ini merupakan ilustrasi dari sistem validasi dan authentikasi yang akan diterapkan.
Validasi device yang akan
didaftarkan ke dalam sistem RT/RW net menggunakan data diri pemilik device
yang akan didaftarkan kemudian dibuatkan username dan password bagi setiap
pemilik device supaya lebih mudah dalam melakukan tracking log koneksi
internetnya.
Membuat policy internet untuk memfilter konten-konten yang dapat diakses oleh siswa hanya konten-konten yang berhubungan dengan pendidikan atau pendukung pendidikan. Untuk pemilihan lokasi pemasangan RT/RW net dapat dilakukan di tempat yang memiliki daya tampung yang besar dan minim partisi seperti di masjid atau di aula atau di tempat lainnya yang disetujui oleh RT/RW atau disetujui oleh Desa. Skema pembiayaan untuk biaya instalasi RT/RW net maupun pemeliharaannya dapat menggunakan tiga skema pembiayaan:
- 100% dana Desa
- 100% dana non Desa seperti bantuan dana yang berasal CSR perusahaan di lingkungan sekitar atau pun dana yang berasal dari sumbangan masyarakat di lingkungan sekitar
- Sharing dana antara dana Desa dan dana non Desa dengan presentase yang telah disepakati oleh masing-masing pihak
Implementasi RT/RW net akan memberikan manfaat sebagai berikut:
- Menyediakan akses internet gratis bagi semua siswa di dalam sebuah lingkungan RT/RW terutama bagi siswa dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah.
- Menyediakan internet terpusat di aula atau masjid atau di tempat lainnya yang dimiliki di lingkungan RT/RW dalam mengikuti kegiatan PJJ yang dapat mendukung suasana belajar yang kondusif bagi siswa.
- Memudahkan dalam mengawasi kegiatan siswa di lingkungan RT/RW selama mengikuti kegiatan PJJ.
- Menyediakan sarana komputer bagi siswa yang tinggal di lingkungan RT/RW yang belum memiliki komputer untuk mengikuti kegiatan PJJ.
- Memastikan bahwa yang dapat terhubung ke dalam RT/RW net adalah pihak-pihak yang berhak
- Memastikan hanya konten-konten
pendidikan atau konten-konten yang mendukung pendidikan yang dapat diakses
- Sinergi peran yang lebih besar
antara pihak Sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menjamin pelaksanaan
pembelajaran bagi siswa di masa pandemi Covid-19.
D.
Daftar Pustaka
Komentar
Posting Komentar